Mama Dorkas Perempuan Sarmi Pengolah Kopra
Cerita inspiratif dari kabupaten Sarmi, tentang seorang perempuan Papua bernama Dorkas yang sehari-hari hidup dari usaha mengolah kelapa menjadi kopra
INSPIRASI


Di sebuah sudut kampung di Kabupaten Sarmi, aroma asap tempurung kelapa perlahan naik ke udara. Bara menyala di bawah para-para sederhana, mengeringkan daging kelapa yang kelak akan menjadi kopra berkualitas. Di tengah aktivitas itu, seorang perempuan berdiri mengawasi, sesekali berbincang dengan para pekerja yang tak lain adalah keluarga dan warga sekitar. Namanya Dorkas berangwa, seorang perempuan Papua yang sehari hari bekerja sebagai pengolah sekaligus pedagang kopra.
“Nama saya Dorkas Berangwa, saya asli perempuan Sarmi,” ujarnya sederhana. Sehari-hari, ia mengelola usaha kopra. Dari membeli buah kelapa dari petani, mengupas, mencungkil, hingga proses pengasapan, semua ia jalankan bersama masyarakat di sekitarnya. Usaha ini bukan sekadar bisnis. Ia adalah ruang kerja bagi banyak orang. Mama Dorkas membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bekerja. Tidak ada sistem karyawan tetap untuk semua pekerjaan, tapi siapa pun bisa datang bekerja mencungkil kelapa, menimbang hasilnya, dan langsung dibayar. “Kalau mereka siapkan sendiri daging kelapanya, saya beli lebih mahal. Jadi mereka juga bisa dapat untung lebih,” jelasnya.
Dalam seminggu, dari hasil olahan sendiri, ia mampu memproduksi sekitar tiga ton kopra. Jika ditambah dengan kopra dari luar kampung yang ia tampung, jumlahnya bisa mencapai sembilan ton. Angka yang tidak kecil untuk usaha berbasis kampung dengan fasilitas sederhana. Yang menarik, Dor tidak menggunakan kayu bakar. Ia memilih sabut dan tempurung kelapa sebagai bahan bakar. “Kalau pakai kulit kelapa, hasilnya lebih bagus. Kualitas kopranya beda,” katanya. Pilihan ini bukan hanya soal kualitas, tetapi juga efisiensi—memanfaatkan limbah menjadi energi.
Awalnya, usaha ini dibangun dari modal sendiri bersama suaminya. Namun, seiring berkembangnya produksi, kebutuhan modal meningkat. Kini ia bermitra dengan seorang pedagang besar dari Makassar. Kopra yang dihasilkan dijual dengan harga sekitar Rp16.000 per kilogram di tempat. Kualitasnya, menurut para pembeli, sudah tidak diragukan.
Meski begitu, perjalanan mama Dorkas tidak selalu mulus. Ia mengaku belum pernah mendapatkan perhatian langsung dari pemerintah sejak memulai usaha ini. Namun, yang ia butuhkan bukan semata bantuan dana.
“Yang saya butuhkan itu dilihat. Apa kekurangan saya di lapangan,” katanya tegas.
Ia berharap ada dukungan teknologi untuk membantu usahanya, seperti mesin pengolahan tempurung menjadi briket, agar limbah tidak terbuang percuma. Ia juga berharap ada akses pasar yang lebih luas, tidak terbatas dengan pedagang pengumpul besar di Jayapura. sehingga ia bisa menjual langsung ke pusat-pusat distribusi besar seperti Surabaya tanpa perantara
Di balik aktivitas ekonominya, Dorkas sebenarnya telah melakukan sesuatu yang lebih besar: membangun ekosistem kerja di kampungnya. Ia memperkirakan, dari usahanya, sudah hampir tiga kampung terlibat sebagai tenaga kerja. “Anak-anak muda sekarang tidak lagi harus cari rokok dengan cara palang jalan. Mereka bisa kerja di sini,” ujarnya. Bagi mama Dorkas, ini bukan soal popularitas. Ia tidak mengejar dikenal banyak orang. Tujuannya sederhana tapi kuat yakni membawa nama baik Kabupaten Sarmi dan membuka jalan bagi orang lain.
Di tengah keterbatasan, tantangan tetap ada. Salah satu kendala utama adalah transportasi. Dengan hanya satu kendaraan, ia kesulitan menjangkau semua pemasok kelapa dari kampung-kampung sekitar. Permintaan tinggi, tetapi kapasitas angkut terbatas. Namun, semangatnya tidak surut. Ia yakin usaha ini masih bisa berkembang lebih besar. Sarmi, katanya, adalah tanah kelapa. “Kalau mau pakai berapa kontainer pun, kelapa di sini tetap ada,” ucapnya yakin.
Di luar pekerjaannya, mama Dorkas tetap menjadi bagian dari kehidupan kampung. Ia masih masuk hutan, mengambil sayur-sayuran seperti pakis, memasak bersama keluarga di sekitar para-para tempat pengasapan kopra. Kehidupan sederhana yang tetap ia jaga di tengah geliat usaha.
Meski kerap diundang dalam forum-forum kampung dan diskusi masyarakat adat, Dorkas memilih fokus pada usahanya. Baginya, kontribusi nyata bisa dimulai dari membuka lapangan kerja dan menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga. Di akhir percakapan, ia menyampaikan pesan yang terasa lebih luas dari sekadar kisah pribadinya. “Kita perempuan Papua jangan bilang kita tidak bisa. Belum ada kata terlambat. Kalau kita coba, pasti bisa,” katanya.
Mama Dorkas mungkin bukan nama yang sering muncul di panggung-panggung besar. Tapi di Sarmi, ia adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana—dari kelapa, dari kampung, dari seorang perempuan yang memilih untuk mencoba.
